Batik Solo dan Penjelasannya

Sejarah Batik Solo dan Penjelasannya Lengkap Dengan Makna Serta Motifnya

Batik Solo dan Penjelasannya – Batik Solo termasuk kedalam jenis batik Pedalaman, dimana setiap batik Solo pada awalnya dahulu pakem – pakem batik itu dalam pembuatan motif dan desainnya maupun dalam pemakaiannya. Misalnya motif parang, jika motif parang berukuran besar makan batik itu hanya boleh digunakan oleh para raja dan permasuri.

Semakin kecil ukuran motif parangnya, maka semakin rendah pula jabatan si pemakainya. Gaya batik Solo ini diciptakan dan awalnya dipakai di sekitar daerah yang dipengaruhi oleh budaya keraton Mataraman. Ciri khas batik ini ialah penggunaan motif yang berbentuk geometris dan dikombinasikan dengan warna sogan. Batik Solo yang juga disebut termasuk batik keratin ini juga memiliki nilai – nilai sosial dan filosofis.

Sejarah Panjang Surakarta (Solo)

keraton surakarta solo - batik
Batik Solo dan Penjelasannya

Jika berbicara tentang awal mula batik Solo maka tidak lepas dari sejarah panjang keraton Surakarta, mulai dari kerajaan Pajang, Mataram, hingga terbentuk keraton Surakarta. Dipercaya bahwa tokoh yang pertama kali memperkenalkan batik di Solo adalah Kyai Ageng Henis yang merupakan putra dari Ki Ageng Selo.

Tepatnya di desa Laweyan yang pada masa itu termasuk ke dalam kerajaan Pajang. Beliau telah bermukim di daerah ini semenjak tahun 1546 M. Desa Laweyan pada masa dahulu merupakan pusat perdagangan bahan baku tenun atau yang disebut juga Lawe. Desa ini terletak di tepian sungai Laweyan.

Apa hubungannya antara kerajaan Pajang dengan kerajaan Mataram yang akhirnya terbentuk kesultanan Surakarta atau yang sekarang dikenal dengan nama kota Solo.?

Secara singkat, kerajaan Pajang merupakan kelanjutan dari dinasti Demak. Dimana pada masa kepemimpinan Jaka Tingkir dipindahkan pusat pemerintahannya dari Demak Bintoro ke Pajang setelah memenangi perang saudara yang sudah terjadi selama kira – kira 21 tahun. Dalam peperangan ini Jaka.

Tingkir dibantu oleh Ki Ageng Pamenahan dan Ki Ageng Penjawi. Karena keberhasilan itulah Ki Ageng Pamenahan dihadiahi daerah Mataram dan Ki Ageng Penjawi dihadiahi daerah Pati.

Ki Ageng Pamenahan inilah yang dikenal sebagai perintis kesultanan Mataram walapun pada masa hidupnya belum sempat menjadikan Mataram sebagai sebuah kesultanan. Setelah Ki Ageng Pamenahan meninggal pada tahun 1575 M, pemerintahan Mataram diteruskan oleh anaknya yang bernama Sutawijaya. Berawal dari berkembangnya daerah Mataram, pada tahun 1582 M tejadilah perang antara kerajaan Pajang dengan Mataram. Perang ini dimenangkan oleh Mataram meskipun pasukannya lebih sedikit dibandingkan dengan kesultanan Pajang.

Setelah sepeninggalan raja Mataram yang ketiga yaitu Sultan Agung, Mataram mengalami kemunduran yang diakibatkan oleh banyak faktor dan salah satunya adalah perebutan kekuasaan. Dan akibat dari taktik adu domba Belanda muncullah perjanjiang Giyanti pada tahun 1755 yang memecah belah kerajaan Mataram menjadi dua bagian yaitu sebelah timur dimiliki Paku Buwono yang kemudian berkembang menjadi Kesunanan Surakarta dan akhirnya menjadi kota Solo, dan sebelah barat dimiliki Pangeran Mangubumi yang kemudian berkembang menjadi Kasultanan Yogyakarta yang kemudian menjadi Jogjakarta.

Batik Solo Pada Masa Kraton Surakarta

Batik Solo dan Penjelasannya
Batik Solo dan Penjelasannya

Setelah perjanjian Giyanti, seluruh pakaian kebesaran kerajaan Mataram dibawa ke Kesultanan Yogyakarta dan Paku Buwono III memerintahkan para abdi dalem kraton Surakarta untuk membuat sendiri motif batik model Surakarta. Pada masa inilah mulai berkembangnya batik Solo.

Sejak keluarnya perintah dari Paku Buwono III masyarakat mulai membuat motif batik dan dengan munculnya motif batik yang berkembang hasil kreasi dari masyarakat itu, Paku Buwono mengeluarkan peraturan untuk membedakan motif – motif batik yang hanya boleh digunakan oleh lingkungan kerabat kraton dan yang hanya boleh digunakan oleh rakyatnya.

Motif – motif kain batik yang hanya boleh digunakan oleh kalangan kerabat kraton adalah batik parang, batik cemungkiran yang berujung seperti paruh burung podang, minyak teleng, bagun tulak, dan tumpal, batik sawat, serta batik cemungkiran yang berujung lung. Selain motif – motif tersebut, rakyat boleh memakainya.

Para abdi dalem yang merancang batik untuk keperluan kraton tinggal di luar kraton, dari situ terbentuklah komunitas para pengrajin batik yang masih dikenal hingga saat ini seperti Kauman dan Pasar Kliwon.

Makna Motif Batik Solo dan Penjelasannya

Makna batik Solo dan Penjelasannya
Batik Solo dan Penjelasannya

Meskipun sekarang penggunaan batik sudah tidak lagi memiliki pake yang kaku seperti pada zaman kesultanan Surakarta dulu, batik Solo yang sangat lekat dengan kehidupan kraton Surakarta, tetap memiliki makna pada setiap motifnya seperti halnya batik pedalaman yang lainnya. Beberapa diantaranya adalah motif batik Kawung dan Parang yang pada zaman dahulu hanya boleh digunakan oleh kalangan kraton. Berikut ini beberapa motif batik solo dan penjelasan maknanya.

  1. Motif Batik Kawung

Motif Batik Kawung solo

Pada zaman sekarang motif kawung bisa dikatakan sebagai batik kantoran karena pada umumnya yang memakain batik dengan motif ini adalah para pekerja kantoran atau pada acara – acara formal saja. Meskipun banyak juga yang mengombinasikannya dengan kain polos sehingga Nampak lebih santai dan dapat digunakan dalam kegiatan sehari – hari.

Ada beberapa versi mengenai asal – usul motif kawung ini, salah satunya adalah cerita rakyat mengenai seorang pemuda desa yang berwibawa dan disegani karena memiliki tutur kata yang bijak dan santun. Hal ini menjadi perhatian bagi kalangan kraton Mataram sehingga mengutus telik sandi untuk membawa pemuda tersebut untuk menghadap Raja.

Sang ibunda dari pemuda tersebut merasa terharu dan menaruh banyak harapan kepada anaknya. Lalu ia membuatkan kain batik motif kawung dan menaruh harapan pada pemuda tersebut agar dapat menjaga hawa nafsu dan mampu menjadi manusia yang berguna bagi orang banyak. Pada akhirnya pemuda tersebut diangkat menjadi adipati Wonobodro oleh raja dan pada saat pengukuhan dirinya tersebut ia menggunakan batik dengan motif kawung yang dibuat oleh ibundanya.

Cerita inilah yang kemudian menjadi makna dari motif batik kawaung.

  1. Motif Batik Parang

Motif Batik Parang solo

Motif batik Parang dipercaya sebagai salah satu motif batik paling tua di Indonesia. Motif ini sudah ada sejak masa kraton Kartasura dan dibuat oleh pendiri kraton Mataram. Hampir sama seperti motif batik Kawung, motif Parang ini hanya boleh dipakai oleh raja dan keturunannya. Motif ini juga digunakan sebagai acuan dalam menentukan derajat gelar kebangsawanan.

Motif batik parang ini kaya akan makna, mulai dari motifnya yang mengikuti huruf S dan menyerupai ombak. Dimana memiliki makna melambangkan hendaknya manusia tidak mudah menyerah dalam mengarungi lautan kehidupan seperti ombak yang terus bergerak di samudera. Kemudian bentuknya yang saling berkesinambungan merupakan gambaran dari jalinan kehidupan yang terus bersambung, konsisten untuk selalu memperbaiki diri, mewujudkan kesejahteraan, dan menjaga hubungan antara manusia dengan alam dan Tuhannya.

Sedangkan motifnya yang membentuk diagonal menggambarkan manusai harus memiliki cita – cita yang tulus, pendirian yang kokoh dan selalu menjujung nilai – nilai kebenaran.

  1. Motif Batik Truntum

Motif Batik Truntum Solo
Batik Solo dan Penjelasannya

Motif Batik Truntum ini menjadi salah satu motif paling favorit di kota Solo, bisa jadi karena memiliki kisah yang romantik dibalik proses pembuatannya. Kisah ini berawal ketika permaisuri Ratu Kencono merasa kurang diperhatikan oleh sang suami yang tak lain adalah raja Paku Buwono III karena kesibukannya.

Pada suatu malam ketika Ratu sedang mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, ia melihat langit yang cerah penuh dengan bintang yang kerlap kerlip dan bertaburan. Dan ia juga mencium bau harum dari bunga tanjung yang berjatuhan di kebun. Dari situlah sang ratu mendapatkan ide dan sembari mendekatkan diri kepada Sang Khalik mulailah ia membatik.

Pada suatu ketika sang raja melihat permaisurinya yang sedang membatik dan terkesan dengan keindahan kain yang sedang dibatiknya. Rasa sayang sang raja pun kembali bersemi, dari kisah romantis itulah batik truntum menjadi symbol kembalinya cinta sang raja.

Secara Bahasa sendiri, truntum berasal dari istailah Jawa Teruntum – tuntum yang artinya tumbuh kembali, sehinggan batik truntum memili arti yang senantiasa bersemi dan kambali semarak.

Demikian artikel lengkap mengenai tentang Batik Solo dan Penjelasannya, perlu anda ketahui bahwa diartikel sebelumnya kami juga sudah membahas tentang batik pekalongan dan penjelasannya, anda bisa membaca artikel tersebut di website ini. Semoga apa yang kami sampaikan dapat bermanfaat untuk menambah wawasan anda. Klik tombol share jika dirasa artikel ini bermanfaat

Satu pemikiran pada “Sejarah Batik Solo dan Penjelasannya Lengkap Dengan Makna Serta Motifnya

Tinggalkan komentar