Batik Jawa Timur Lengkap Dengan Sejarah, Penjelasan dan Motif

Batik Jawa Timur – Meskipun kebanyakan orang lebih mengenal batik Pekalongan dan Solo yang berasal dari Jawa Tengah dan batik Jogja yang berasal dari Yogyakarta, namun sebenarnya batik juga berkembang di daerah Jawa Timur. Bahkan sejatinya kehadiran batik itu sendiri dipercaya berawal pada saat kerajaan Majapahit berkuasa di Nusantara yang pusat pemerintahannya terletak di Jawa Timur, yaitu di daerah Trowulan pada masa Jayanegara, dan Kediri pada masa Girindrawardhana. Maka tidak heran jika kesenian batik ini juga berkembang di daerah Jawa Timur seperti Ponorogo, Madura, dan Mojokerto.

Seorang peneliti asal Belanda bahkan pernah menyebutkan bahwa pola gringsing yang hanya bisa dibuat dengan menggunakan canting (alat khusus untuk membatik) sudah dikenal di daerah Kediri, Jawa Timur sejak abad ke 12.

Ada juga yang menyebutkan bahwa ada sebuah arca Dewi Kebijaksanaan Budha yaitu Prajnaparamita ditemukan memakai ukiran pakaian yang memiliki pola – pola rumit yang mirip dengan pola batik dan hanya bisa dibuat dengan menggunakan canting. Arca tersebut dipercaya berasal dari Jawa Timur pada abad ke 13. Berdasarkan hal ini ada yang percaya bahwa penggunaan canting untuk pembuatan batik di Jawa Timur sudah dikenal sejak abad 13.

Sejarah Batik Jawa Timur

Sejarah Batik Jawa Timur

Seperti halnya batik dari daerah Jawa Tengah dan Jogja, batik di Jawa Timur pada awal pembuatanya juga hanya dikerjakan dan dipakai oleh kalangan kerajaan atau keraton dan pengikutnya saja. Namun lama kelamaan para pengikut kerajaan yang tinggal di luar keraton tersebut membawa kesenian batik ini keluar kraton dan mulai ditiru oleh warga sekitar khususnya para ibu – ibu dan kaum wanita. Karena kebiasaan ibu – ibu ini membatik untuk mengisi kekosongan waktu, kesenian batik mulai berkembang ke masyarakat luas.

Tidak banyak ditemukan artikel mengenai awal mula batik di Jawa Timur, karena perkembangan kesenian batik yang sangat pesat justru pada masa kerajaan Mataram. Seperti kita ketahui kerajaan Mataram tersebut lebih terpusat ke Jawa bagian tengah khususnya Solo dan Jogjakarta. Masa keemasan kesenian batik kemudian berlanjut pada masa kesultanan Jogjakarta dan Surakarta (Solo).

Batik Jawa Timur dan Penjelasannya

Batik Jawa Timur dan Penjelasannya

Batik Jawa Timur memang kalah pamor dari batik Jawa Tengah dan Jogja walapun umur dari batik Jawa Timur masih jauh lebih tua. Tetapi motif dan ragam warna dari batik Jawa Timur ini sebenarnya tidak kalah menarik dibandingnya batik dari dua daerah tersebut. Warna dan garisnya lebih tegas dan motifnya tidak terikat dengan pakem tertentu sehingga lebih bebas untuk berkreasi. Kebanyakan ukuran motifnya besar – besar dan gambarnya terinspirasi dari alam seperti tumbuh – tumbuhan dan hewan – hewan.

Menurut disainer batik yang juga ketua umum Asosiasi Batik Jawa Timur Erwin Sosrokusumo, kerajaan – kerajaan yang ada di Jawa Tengah belajar kesenian membatik dari Ponorogo. Hal itulah yang menyebabkan ada kemiripan desain batik dari kedua wilayah ini.

Masih menurut Erwin, adapun ciri – ciri yang membedakan antara batik produksi Jawa Timur dengan Jawa Tengah adalah, garis dan warnanya yang tegas dan juga tidak ada pakem atau aturan tertentu yang membatasi ide kreasi motif. Hal ini sesuai dengan karakter kebanyakan orang Jawa Timur yang keras, bebas, dan tidak mau diatur – atur. Sehingga tidaklah mengherankan kalau motif batik Jawa Timur yang sudah terkumpul jumlahnya sampai ribuan motif.

Tetapi masih ada satu daerah di Jawa Timur yang memiliki pakem dalam pembuatan motifnya, yaitu daerah Magetan. Pakem yang harus dipenuhi adalah gambar bambu atau dalam Bahasa Jawa sering disebut prin-pringan. Motif bambu ini harus ada disetiap kain batik produksi Magetan, namun begitu dalam satu kain batik tersebut juga dipadu-padankan dengan motif lain yang bebas.

Motif Batik Jawa Timur

Motif Batik Jawa Timur

Batik Jawa Timur yang bebas dan tidak terikat pada pakem atau aturan tertentu menjadikan Jawa Timur kaya akan motif batik. Ada 38 kabupaten dan kota yang berada di Jawa Timur dan hampir semuanya memiliki pengrajin batik yang memproduksi kain batik dengan ciri khasnya masing – masing. Hal ini berbeda dengan daerah Jawa Tengah yang tidak merata penyebarannya yakni hanya terpusat di Pekalongan dan Solo, meskipun ada beberapa daerah lainnya yang juga memproduksi batik.

Kondisi lingkungan dan karakteristik si pembatik biasanya mempengaruhi motif batik yang dikerjakannya. Sebagai contoh di Madura motif dan warnanya cenderung kasar dan tegas. Terkadang pun terkesan asal jadi. Sesuai dengan karakteristik pembatik di Madura itu sendiri. Hal ini juga lah yang menyebabkan kain batik madura lebih cepat jadi dan biasanya dijual dengan harga murah. Namun begitu, ada juga batik Madura yang memiliki harga hingga Jutaan.

Motif Batik Tanjungbumi Bangkalan Madura

Motif Batik Tanjungbumi Bangkalan Madura

Seperti halnya di daerah lain, kebiasaan membatik ini dilakukan oleh kaum perempuan untuk mengisi waktu. Di Bangkalan, Madura kaum perempuan pun membatik untuk mengisi waktu mereka ketika mengunggu suaminya kembali setelah mencari ikan. Sebagian besar penduduk Bangkalan memang memiliki mata pencarian sebagai nelayan, dan ketika melaut mereka membutuhkan waktu yang lama hingga berhari – hari bahkan hingga berbulan – bulan.

Sebagai seorang wanita dan istri, tentunya ada perasaan was – was dan khawatir ketika sang suami tercinta pergi mencari nafkah dalam waktu yang lama di tengah lautan. Untuk mengurangi rasa khawatir itulah para istri tersebut mulai belajar membuat batik. Kebiasaan ini terbawa hingga sekarang, bahkan sudah menjadi industi rakyat yang besar dan menjadikan Tanjungbumi sebagai kecamatan paling besar yang memproduksi batik di Madura.

Popularitas motif batik Tanjungbumi ini mulai meningkat dan dikenal oleh penggemar batik di Indonesia. Harga selembar kain batik Tanjungbumi bisa mencapai jutaan rupiah.

Motif Batik Tuban Jawa Timur

Motif Batik Tuban Jawa Timur

Ada ciri khas tersendiri yang unik dari motif batik Tuban, yaiut proses pembatikannya vertikal dan terintegrated. Yaitu para pengrajin memintal langsung gulungan kapas untuk menjadi benang, lalu ditenun untuk menjadi selembar batik baru kemudian dibatik. Batik ini disebut dengan Batik Tulis Gedog.

Kehidupan masyarakat Tuban sendiri dipengaruhi oleh 3 aspek budaya. Yang pertama adalah budaya Jawa yang mengakar sejak Tuban dikuasai oleh kerajaan Majapahit pada abad XII sampai XIV. Yang kedua adalah budaya Islam yang masuk pada saat Sunan Bonang hidup dari tahun 1465 – 1525 M. Dan yang ketiga adalah budaya Tiongkok karena menjadi tempat singgahnya para tentara Kubalai Khan yang melarikan diri saat menyerang Jawa pada awal anad XII dan banyak keturunannya yang masih hidup di Tuban hingga saat ini.

Secara tidak langsung, tiga aspek budaya ini juga memberikan pengaruh kepada perkembangan motif batik di daerah Tuban. Seperti misalnya pengaruh Tiongkok yang terlihat dari hadirnya motif burung “Hong” yang khas negeri tersebut. Lalu pengaruh Jawa terlihat dai motif – motif bunga yang terdapat di kain batik Tuban, motif bunga tersebut sudah menjadi motif – motif tradisional sejak lama di hampir seluruh Jawa.

Sedangkan pengaruh Islam dapat terlihat pada motif batik tulis religious seperti kijing miring yang memiliki makna bahwa setiap manusia akan kembali kepada Allah Ta’ala.

Demikian penjelasan tentang Batik Jawa Timur, selain artikel ini anda juga bisa membaca artikel batik lainnya seperti Batik pekalongan yang bisa menambah wawasan anda tentang batik menjadi luas. Semoga apa yang kami berikan untuk anda bisa bermanfaat dan bisa anda share juga ke semua sosial media untuk anda.

Tinggalkan komentar